Kemarin waktu liburan pertama aku pergi ke comal , ke tempat Emak, Mamah Pong, sama Papah Yong, setelah beberapa hari di sanaaku pergi ke Jakarta ke tampat Atung, sama Uti, terus ce Comal lagi , habis dari Comal baru aku pulang ke Jogja tapi Emak ikut soalnya mau liburan lagi ke Malay, Terus nyampe di rumah mungkin jam 20.00an lah terus besoknyajam 15.00 kita pergi ke airport untuk ngurus tiket, setelah selesai ngurus tiket kita nunggu sampek jam 17.00 terus berangkat ke Malaysia, 1 hari di KL (Kuala Lumpur), 2 malem di Genting, habis dari Malay kita ke Singapore 3 malem di hotel Grand Central terus ke Malay dari Malay ke Jogja
Saatpernikahanmereka,teman-temanPutriTasyadanPangeranIndradatang,teman-teman PutriTasyaantaralain adalah PutriHelen, PutriChacha,dan PangeranOyon. Teman-temanPangeranIndraadalahPutriAmanda,dan Pangeran Wiliam. Akhirnyamerekahidupbahagiauntukselamanya.
Ketika Tuhan telah selesai menciptakan Adam dan Hawa, dan menempatkan mereka di taman firdaus. Sekarang, Tuhan bermaksud menciptakan sepasang pria dan wanita lagi yang akan ditempatkan di taman lain yang juga indah.
Pada mulanya, Ia menciptakan pria lebih dulu, kemudian Ia menciptakan sang wanita untuk menemaninya. Tapi tanpa disadari olehNya bahan-bahan untuk menciptakan manusia sudah habis dipakai untuk menciptakan pria. Kemudian Sang Pencipta merenung sejenak, dan kemudian Ia mengambil lingkaran bulan purnama, kelenturan ranting pohon anggur, goyang rumput yang tertiup angin, mekarnya bunga, kelangsingan dari buluh galah, sinar dari matahari, tetes embun dan tiupan angin. Ia juga mengambil rasa takut dari kelinci dan rasa sombong dari merak, kelembutan dari dada burung dan kekerasan dari intan, rasa manis dari madu dan kekejaman dari harimau, panas dari api dan dingin dari salju, keaktifan bicara dari burung kutilang dan nyanyian dari burung bul-bul, kepalsuan dari burung bangau dan kesetiaan dari induk singa.
Dengan mencampurkannya semua bahan itu, maka Sang Pencipta membentuk wanita dan memberikannya kepada si pria. Pria itu merasa senang sekali karena hidupnya tidak lagi merana dan kesepian seorang diri.
Setelah satu minggu, pria itu datang kepada Tuhan, katanya: “Tuhan, ciptaan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku membuat hidupku tidak bahagia. Ia bicara tiada henti sehingga aku tidak dapat beristirahat. Ia minta selalu untuk diperhatikan. Ia mudah menangis karena hal-hal sepele. Aku datang untuk mengembalikan wanita itu kepada-Mu, karena aku tidak bisa hidup dengannya”. “Baiklah”, kata Sang Pencipta. Dan Ia mengambilnya kembali.
Beberapa minggu kemudian, pria itu datang lagi kepada Tuhan, dan berkata, “Tuhan, sejak aku memberikan kembali wanita ciptaan-Mu, kini aku merana kesepian. Tiada lagi yang memperhatikanku, tiada lagi yang menyayangiku. Aku selalu memikirkan dia, ke mana pun aku pergi, aku selalu ingat dia. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Aku rindu kepadanya. Di kala aku sendirian, kubayangkan wajahnya yang cantik, kubayangkan bagaimana ia menari dan menyanyi. Bagaimana ia melirik aku. Bagaimana ia bercakap-cakap dan manja kepadaku. Ia sangat cantik untuk dipandang, dan sedemikian lembut untuk disentuh. Aku suka akan senyumannya. Tuhan, kembalikan lagi wanita itu kepadaku”. Sang Pencipta berkata, “Baiklah”. Kemudian Ia memberikan wanita itu kembali kepadanya.
Tetapi, tiga hari kemudian pria itu datang lagi kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti. Mengapa dia memberikan lebih banyak lagi kesusahan dari pada kegembiraan. Dia semakin menyebalkan. Aku tidak tahan lagi dengan sikap dan tingkah lakunya. Aku memohon kepada-Mu. Ambillah kembali wanita itu.Aku tidak dapat lagi hidup dengannya”. Sang Pencipta balik bertanya, “Kamu yakin bahwa kamu sudah tidak dapat hidup lagi dengannya?”.
Pria itu tertunduk malu, ia merasa putus asa. Dalam hatinya ia berkata, “Apa yang harus aku perbuat? Aku tidak dapat hidup dengannya, tetapi aku juga tidak dapat hidup tanpa dia. Tuhan, ajarilah aku untuk mengerti apa arti hidup ini?”.
“Belajarlah untuk memahami perbedaan dan untuk berani menerima perbedaan dalam hidupmu. Pahamilah dan usahakanlah apa yang menjadi kebutuhan mendasar dari pasangan hidupmu,”,jawab Tuhan.
Dan inilah enam kebutuhan mendasar pria dan wanita:
1. Wanita membutuhkan perhatian, dan pria membutuhkan kepercayaan.
2. Wanita membutuhkan pengertian, dan pria membutuhkan penerimaan.
3. Wanita membutuhkan rasa hormat, dan pria membutuhkan penghargaan.
4. Wanita membutuhkan kesetiaan, dan pria membutuhkan kekaguman.
5. Wanita membutuhkan penegasan, dan pria membutuhkan persetujuan.
6. Wanita membutuhkan jaminan, dan pria membutuhkan dorongan.
Ada empat Lilin yang menyala… sedikit demi sedikit habis meleleh…
Suasana begitu sunyi, sehingga terdengarlah percakapan mereka…
Yang pertama berkata :
“Aku adalah DAMAI
namun manusia tak mampu menjagaku…
Maka lebih baik aku mati saja..”
Demikianlah… sedikit demi sedikit sang Lilin padam…
Yang kedua berkata :
“Aku adalah IMAN
sayang aku tak berguna lagi, manusia tak mau mengenalku..
untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala…”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya…
Dengan sedih giliran Lilin Ketiga bicara :
“Aku adalah CINTA,
Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala…
Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna…
Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya…
membenci keluarganya…”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin Ketiga…
Tanpa terduga….
Seorang anak saat itu masuk kedalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam…
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata :
“Haii… apa yang terjadi? Kalian harus tetap menyala…”
Lalu ia menangis tersedu-sedu…
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata :
“Jangan takut… janganlah menangis…
Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya
Akulah HARAPAN…”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin HARAPAN, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Jangan biarkan api harapan yang ada di dalam hati kita padam…
….. dan kita masing-masing…. Semoga dapat menjadi perantara, seperti anak tersebut…
dalam situasi apapun semoga kita mampu menghidupkan kembali DAMAI, IMAN, CINTA….
Dengan HARAPAN yang kita punya…
Seperti biasanya, seorang laki-laki, sebut saja Steve, datang ke sebuah salon untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topik pun akhirnya jadi pilihan, hingga akhirnya Tuhan jadi subyek pembicaraan.
“Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti yang anda katakan tadi,” ujar si tukang cukur.Mendengar ungkapan itu, Steve terkejut dan bertanya,”Mengapa anda berkata demikian?”.
“Mudah saja, anda tinggal menengok ke luar jendela itu dan sadarlah bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Tolong jelaskan pada saya, jika Tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit? mengapa banyak anak yang terlantar?. Jika Tuhan itu ada, tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi…” ungkapnya dengan nada yang tinggi.
Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang tukang cukur. Namun, ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak Lebih meluas lagi.
Ketika sang tukang cukur selesai melakukan pekerjaannya, Steve pun Berjalan keluar dari salon. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya pun lebat.
Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat tidak rapi.
Steve kembali masuk ke dalam salon dan kemudian berkata pada sang tukang cukur, “Tukang cukur itu tidak ada!”…
Sang tukang cukur pun terkejut dengan perkataan Steve tersebut. “Bagaimana mungkin mereka tidak ada? Buktinya adalah saya. Saya ada di sini dan saya adalah seorang tukang cukur,” sanggahnya.
Steve kembali berkata tegas, “Tidak, mereka tidak ada, kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti contohnya pria di luar itu.”
“Ah, anda bisa saja…Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana. Yang terjadi pada pria itu adalah bahwa dia tidak mau datang ke salon saya untuk dicukur,” jawabnya tenang sambil tersenyum. “Tepat!” tegas Steve.
“Itulah poinnya. Tuhan itu ada. Yang terjadi pada umat manusia itu adalah karena mereka tidak mau datang mencari dan menemui-Nya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini….”
Hari ini mbak Erni pulang ke Comal, karena dia mau menikah padahal masih lama lho (tanggal 12 April 2009), terus mami tanya kenapa nggak akhir bulan Maret aja pulangnya?, terus mbak Erni bilang “karena tanggal 30 mbak Erni dan om Gembus (suaminya)harus suntik imunisasi dulu dan datangnya harus barengan jadi mbak Erni harus pulang hari ini” dan katanya nggak boleh balik ke sini lagi sama om Gembus kecuali kalo om Gembus mau coba cari kerja di sini, barudeh mbak Erni boleh kerja lagi di sini. Semoga mbak Erniboleh kerja di sini lagi.
Jangan Baca jika Anda tidak Mencintai Ibumu!
Ketika ibu saya berkunjung, Ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena
ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya,
seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.
Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut.
Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.
Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.
Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya … Dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini.
Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu…
tiap dinda dengar ada lagu BCL (Sunny) dinda pingin nangis karena dinda ingat UTI NIA uti nia itu baik sekali UTI NIA pernah beliin dinda tempat pensil UTI NIA pernah bantu dinda bikin tali yang dipasangkan sebuah benda UTI NIA pokoknya baik sekali sayang dia sudah meninggal dinda sangat sedih begitu tahu UTI NIA meninggal tapi mungkin memang sudah waktunya UTI NIA meninggal.
Hari kemarin papah Yong datang ke rumahku ia adalah kakakiparnya mamaku.
Dia sampai di sini jam 20.00 dia membawakan aku mobil-mobilan yang aku pesan, sayang Papah Yong tidak bersama Mama Pong ,
Mama Pong adalah kakakkandungnya mamaku mereka tinggal di Comal (Pekalongan).
Waktu aku ke sana aku membawa kelinci untuk saudaraku yang ada di sana untung di sana halamannya luas tidak seperti di rumahku.TAMAT